kalau anak sakit (bagian 1)

Hal pertama adalah pasti senewen kalo Sigi udah mulai demam. Padahal pengalamannya udah berkali-kali, baca tata laksana menghadapi demam juga udah berkali-kali, tapi pas menghadapi tetap aja, kalo senewennya dateng duluan, ya kaya mulai dari nol lagi, semua yang pernah dialami dan dibaca nggak ngaruh sama sekali.

Paling parah kalo kesenewenan diri sendiri ditambah dengan kesenewenan dari kakung/ uti/ neneknya sendiri. Ya soalnya mereka datang dari era yang percaya kalo anak demam artinya ya harus langsung dibawa ke dokter. Kalo batuk dan pilek ya harus segera diberi obat. Sementara, gue kan orang tua produk jaman internet yang udah lebih kritis soal kesehatan, nggak boleh pasrah sama apa kata dokter, walaupun juga bukan berarti harus sok tau. Kalo udah kayak gitu, nggak nyambung kan gue sama mereka. Ya tentunya nggak salah juga sih mereka bersikap begitu, namanya juga kakek-nenek yang sayang cucu, pasti ikut khawatir dan cemas kan kalo liat cucunya sakit.

Apalagi dokternya Sigi yang sekarang nih jenis dokter yang nggak gampang ngeresepin obat. Kalo kita datang, dia pasti mempersilakan gue memaparkan kronologi sakit dan gejala yang timbul pada Sigi. Terus kalo udah selesai, bukannya dia membuat kesimpulan, dia nanya balik lagi ke gue dan Putra: yang bikin ibu/bapak khawatir jadi apa? Hihihihi. Baru deh abis gue jawab, dia mulai memberi penjelasan dan diagnosa sakitnya Sigi.

Selama ini, kami selalu keluar dari ruang dokter tanpa membawa resep karena memang demam dan sakit yang dialami Sigi disebabkan oleh virus. Virus itu self-limiting disease, yang artinya akan sembuh dengan sendirinya. Seringkali juga kami memang sudah tau karena sebelum ke dokter biasanya membaca panduan digital dari Mayo Clinic, Kidshealth dan situs Milis Sehat. Cuma kan tetap perlu ke dokter untuk menegakkan diagnosa yang benar. Iya, intinya ke dokter cuma buat curhat berbayar :))

Nah suatu masa pas kulit Sigi timbul ruam-ruam dan nggak hilang-hilang selama beberapa waktu, gue dan Putra senewen. Setelah konsultasi sama dokternya Sigi yang suka online di FB message (yep, terima kasih untuk dokter-dokter yang melek internet dan social media!), menurut dia itu bukan alergi dan mungkin cuma ruam yang disebabkan dari infeksi virus.

Merasa nggak puas, Putra pingin langsung bawa Sigi ke dokter alergi, tapi gue sendiri gak sreg kalo langsung bawa dokter alergi. Maunya ke dokter spesialis anak dulu untuk minta rujukan, kalo memang alergi ya ke dokter alergi. Lagian gue males juga ke dokter alergi yang rata-rata antriannya panjang, duh enggak deh ya, anak masih sakit nggak jelas terus harus berlama-lama di ruangan penuh orang nggak sehat.

Jalan tengahnya, kami cari opini kedua dari dokter spesialis anak yang lain. Gue langsung cari jadwal dokter di Markas Sehat. Alasan pilih sana karena rata-rata dokternya adalah tipe dokter yang bisa diajak diskusi dan nggak gampang memberi resep obat juga. Lagipula gue males ke RS dan dokter-dokter anak terpercaya rata-rata antriannya amit-amit. Eh, setelah SMS Markas Sehat, tau-tau langsung dapet jadwal dan ketemu sama dokter Purnamawati alias dokter Wati. Jeng-jeng!

Dan iya, seperti kata banyak orang, pertemuan dengan dokter Wati itu membuka mata. Plus pipi panas juga seperti ditampar-tampar karena dia bilang kami orang tua yang base-nya nggak kuat sehingga jadi panikan. Apalagi setelah melihat buku dokternya Sigi yang penuh berlembar-lembar, dududu (pembenaran gue dan Putra: soalnya dulu kita punya 2 dokter, jadi tiap Sigi sakit kalo diagnosa dokter A nggak memuaskan plus dikasih resep, kita pasti langsung ke dokter B buat curhat dan meyakinkan diagnosa yang benar, jadinya catatan dokternya 2x lipat, hahaha).

Intinya sih, pesan dari dokter Wati, kalo anak sakit baca dan ikuti panduan/ tata laksana treatment di literatur-literatur, lakukan observasi, perlu mengatur kepanikan dan musti bisa bersikap rasional. Yah masuk akal sih, dengan begini kan memaksa kami, sebagai orang tua harus paham betul sama kesehatan anak.

Ya gitu deh, perjalanan masih panjang sih buat urusan menghadapi anak sakit. Soalnya biarpun sudah melihat sendiri kami selalu berusaha bersikap rasional, yang namanya kakung/ uti/ nenek pasti selalu berkomentar hal yang itu-itu saja kalau melihat cucunya sakit. Yang mana, komentarnya juga masih aja membuat kami goyah. Harus lebih menguatkan fondasi nih!

Eh terus akhirnya kita punya alat canggih juga demi observasi di rumah lancar.

photo(33)

Yap, termometer telinga! Soalnya Sigi suka sebel kalo ditempelin termometer badan kan musti nunggu agak lama, gak sabaran dia. Mahal yaaaaa, tapi anggap saja sebagai aset penting ya, hihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s