soal rumah: langkah berikutnya

Soal rumah ternyata menguras perasaan jiwa dan raga ya. Padahal sih perjalanan saya dan Putra sekarang ini mengenai rumah bisa dibilang belum ada apa-apanya. Tapi yang namanya membangun rumah itu kan membangun impian, jadi kayanya bikin emosional sekali. Apalagi menyatukan impian saya dan Putra, karena rumah ini kan akan menjadi tempat kami berdua berkarya dan membangun keluarga bersama-sama.

Tadinya, saya pikir ya udah lah kita cari rumah cluster yang sedang sangat menjamur di pinggiran kota Jakarta. Cari yang sesuai anggaran dan uang yang kami miliki. Pokoknya yang penting kan punya rumah. Apalagi kalau nggak cepet-cepet, harga rumah dan tanah juga naik terus. Tapi Putra menolak mentah-mentah. Mulai dari alasan: rumah cluster itu seragam, ruang-ruang yang dibangun bisa jadi nggak sesuai dengan kebutuhan kami. Lahan tanahnya sangat kecil pula! Lalu dia pun mengingatkan juga soal pengembang cluster, terutama yang harga rumah per unitnya bukan 500 juta ke atas, kebanyakan nggak profesional. Kualitas bahan bangunannya pun jelek!

Iya sih, jadi inget rumah sepupu saya yang ada di sebuah cluster di daerah Bintaro. Bangunan baru tapi umurnya pendek sekali, nggak sampai dua tahun mereka harus renovasi. Lalu yang paling sedih, dinding kamar anaknya rembes karena mungkin bangunan rumahnya menempel dengan rumah tetangga. Mural yang pernah saya dan Putra bikin bersama untuk kamar itu pun langsung hancur total.

Baiklah, akhirnya saya memutuskan untuk bersabar saja dan juga memutuskan untuk menghilangkan keinginan memiliki rumah di cluster.

Di tahun ketiga pernikahan kami, kami bertekad untuk lebih serius mewujudkan impian kami memiliki rumah sendiri. Putra pun mengajak saya melihat-lihat rumah-rumah lama yang akan dijual pemiliknya. Alasannya, harga rumah lama dan besar tanahnya kadang lebih masuk akal, bangunannya pun bisa jadi lebih kuat daripada rumah-rumah baru di cluster itu. Sembari mencari rumah-rumah lama yang potensial, kami juga mencari tanah yang akan dijual, karena pada dasarnya itu adalah pilihan ideal untuk kami. Memiliki bidang tanah kosong dan membangun rumah dengan ruang-ruang yang sesuai dengan kebutuhan kami, semua dari nol.

Mencari tanah ataupun rumah, dua-duanya sama-sama seperti mencari jodoh. Harga oke, bangunan oke, hati nggak sreg. Harga nggak oke, bangunan so-so, hati sreg. Sering juga saya yang sreg, Putra yang nggak sreg, begitu terus.

Sampai akhirnya kami berkunjung ke kompleks perumahan lama di dekat rumah orang tua. Rencana awalnya sih mencari rumah yang mau dijual. Eh ternyata mereka baru saja membuka lahan baru untuk perumahan! Langsung saja kami buru-buru mendatangi kantor pemasaran. Berita baiknya, mereka nggak cuma menjual rumah jadi, tapi juga menjual kavling!

Okey, harganya memang agak di atas anggaran kami sedikit, tapi besar kavling yang tersedia ternyata sesuai dengan keinginan kami. Nilai tambah lainnya, lokasinya merupakan di kompleks perumahan yang artinya sudah lebih tertata dan punya area yang aman buat saya lari (hahahaha). Pertimbangan ini memang muncul setelah melihat-lihat rumah-rumah yang dijual atau tanah yang dijual lainnya berlokasi di daerah yang serampangan menurut kami. Dekat perkampungan atau areanya terlalu kecil dan lain sebagainya. Jadi, setelah melihat lokasi perumahan ini, kami tersenyum-senyum gembira.

Dua bulan berselang setelah kunjungan kami, akhirnya kami datang lagi untuk melunasi kavling pilihan kami. Rasanya baru menjadi orang dewasa beneran! Kami memiliki tanah kosong untuk membangun rumah impian kami! Wow, sungguh momen yang sureal! Ya walaupuuuun, kami masih belum yakin kapan rumahnya sendiri akan dibangun sih, hehehe.

Tanda terima pelunasan sudah di tangan kami dan oleh pihak pemasaran kami dijanjikan akan segera dikabari untuk pengurusan surat tanah ke notaris. Tiga minggu berlalu, belum ada kabar dari pihak pemasaran perumahan tersebut. Saya mengingatkan Putra untuk menghubungi pihak pemasaran, tapi jawaban yang diperoleh ‘berkas-berkasnya masih diurus’. Okey, kami beri waktu lagi dan berpesan untuk tidak lupa menghubungi kami kembali bila berkas-berkas sudah siap.

Saya nggak inget berapa kali lagi kami menghubungi bagian pemasaran yang mengurus berkas kami, tapi selalu saja jawabannya gantung. Akhirnya, kami pun mendatangi kantor pemasaran perumahan itu dan menemui orang pemasaran yang berbeda. Ternyata oh ternyata, pak H, orang pemasaran yang seharusnya mengurus surat-surat kami itu memang bermasalah! Menurut cerita, pak H memang punya hobi mengulur-ulur pengurusan surat tanah ke notaris! Grrrrr…! Akhirnya dari orang pemasaran itu, kami dirujuk untuk menghubungi pak T, pimpinan pemasaran, agar surat-surat tanah kami bisa segera diurus.

Beruntung kami bisa langsung menghubungi pak T dan beliau juga memastikan surat-surat tanah kami akan segera diurus sehingga kami juga bisa menemui notaris. Fiuh! Tenang deeeh! Eh, kirain udah tinggal menunggu kabar selanjutnya soal pertemuan dengan notaris, tiba-tiba pak T menghubungi Putra dan mengatakan kami harus membayar selisih nilai NJOP tanah kami. WHAAAT? Memang, saat melunasi pembayaran, kami sempat diingatkan nilai tanah akan segera naik dalam beberapa minggu lagi. Nah, berhubung kami langsung melunasi, secara logika kami sudah tidak terbebani nilai NJOP baru dong, ya kan?! Ugh, SMS malam itu (iyaaa…dihubunginya pun melalui SMS!) sempat bikin kami gelisah dan nggak bisa tidur. Anggaran kami untuk tanah kan sudah habis dan uang pinjaman yang kami miliki rencananya hanya dianggarkan untuk kepentingan pembangunan rumah!

Kami pun nggak mengulur-ulur waktu lagi, esok paginya Putra kembali menghubungi pak T dan akhir pekan berikutnya Putra mendatangi kantor pemasaran untuk mengklarifikasi seluruh hal. Alhamdulillah, urusan selesai dan sepertinya memang ada kesalahpahaman di pihak pemasaran. Huh, bikin senewen aja!

Lalu kemarin, akhirnya kami diundang ke kantor notaris untuk melakukan penandatanganan akte jual beli tanah.

Waw…

Sementara ini, kami pun sudah sempat menghubungi arsitek idaman kami dan menyelesaikan PR dari sang arsitek. Iya, PR itu berupa data tanah, visi misi kami berikut penjelasan tentang diri kami masing-masing sebagai para calon penghuni rumah.

Sungguh ya, perjalanan ini rasanya akan sangat panjang. Langkah yang kami lakukan mungkin akan pendek-pendek dan pelan-pelan saja, nggak lebih dari 50km/jam. Tapi mudah-mudahan perjalanan mendapatkan ‘jodoh’ kami ini akan berjalan lancar-lancar saja ya ke depan. Amin!

4 thoughts on “soal rumah: langkah berikutnya

  1. Iyaaaaaa, nanti di ruang keluarga ditaruh sofa bed kok, jadi siapa aja bisa nginep, heheheh🙂 Makasih ya Lala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s