di pojok-pojok Paris

Beberapa hari ini terkangen-kangen sama kota Paris. Terus hari ini nemu folder di laptop yang isinya sebagian foto kami waktu di Paris yang nggak pernah dipublikasikan. Kalo diliat sedetil-detilnya, kota ini sesungguhnya jelek, jorok, tua dan fasilitas (transportasi) publiknya nggak terlalu ramah anak tapi tetep…ada sesuatu buat saya tentang Paris. Lucunya Putra pun merasakan hal yang sama. Padahal mah, kami berdua juga nggak sempet romantis-romantisan seperti di film-film gitu waktu di Paris.

Ini nih beberapa foto-fotonya.

26

Pagi pertama berada di Paris. Ini fotonya abis kekenyangan makan gyros di sebuah gang yang isinya banyak warung makanan Yunani, warung gyros dan resto Paris kecil yang murah meriah. Trotoar ini letaknya di sebelah toko Shakespeare & Co. Nggak tau kenapa Sigi langsung aja tengkurep dan rebahan di trotoar lalu anjing ini lagi lepas dari pegangan pemiliknya dan langsung mengendus-endus Sigi. Sigi cuek karena biasa diendus Skinny dan si anjing malah makin penasaran🙂

1

Selalu suka sama foto ini. Kami baru nyampe di apartemen tempat kami menginap dan gembira banget melihat pemandangan di luar jendela yang Paris banget: railing balkon yang melingkar-lingkar, barisan rata pohon-pohon botak yang mulai tumbuh tunas-tunasnya, terus di bawah ada deretan sepeda-sepeda sewaan di depan kafe yang dipenuhi orang pada ngopi. Saat sedang difoto, saya lagi merasa sureal banget nggak percaya akhirnya bisa nyampe juga di Paris, setelah 20 tahunan ngimpi-ngimpi.

27

Kami lagi memandangi sungai Seine yang pinggirannya rameeee sama orang-orang lagi berjemur. Hari itu suhu udara Paris memang lagi okeh, anginnya dingin tapi mataharinya terik, yahud lah! Sigi lagi sibuk teriak-teriak ngeliatin batobus yang dipenuhi penumpang dan semua sibuk dadah-dadahin orang-orang…siapa sih mereka?

8

Kira-kira jam 10 pagi hari kedua di Paris persis di depan apartemen. Kami abis ke Monoprix buat beli beberapa kebutuhan di apartemen dan mau melanjutkan jalan-jalan ke museum Louvre. Sigi lagi belajar membiasakan diri jalan-jalan pake jaket tebalnya ini, hehehe. Tapi dia sama sekali nggak merasa terganggu sama udara dingin negeri Eropa ini, beda sama ibunya yang udah serba salah pake baju berlapis-lapis tapi masih kedinginan juga.

20

Setelah 4 jam pegel muterin Louvre (dan masih tetep belum liat semuanya juga), akhirnya cari udara segar dan sekalian ngajakin Sigi main ke Jardin du Tuileries yang ada di samping Louvre. Taman ini gede banget, tapiiii mereka nggak punya area rumput buat duduk-duduk. Areanya berpasir dan area rumput malah dipagerin karena memang ditanami berbagai bunga cantik. Tapi kursi-kursi taman bertebaran dimana-mana. Lalu pas akhirnya kami menemukan taman bermain anak-anak, eh Sigi malah udah terlelap di stroller. Akhirnya duduk aja di depan komidi putar sambil berharap anaknya gak tidur lama-lama. Tau-tau udah satu jam aja duduk di situ dan ternyata begitu aja (alias bengong-bengong tanpa ngapa-ngapain) saya pun udah seneng…

29

Hehehe nggak inget ada foto ini dan nggak inget juga lagi godain Sigi apa. Kayaknya sih Sigi mau minjem kamera digital Ibu. Ini lagi di Montmartre. Abis ngos-ngosan naik 200 anak tangga sambil manggul stroller di stasiun metro Abbesse. Ampuuunn! Ini nih bukti fasilitas kota Paris nggak ramah anak, nggak ada lift gitu lhooo dari stasiun bawah tanah! Terus baru ngeh kalo daerah Montmartre ini daerah kumuh karena keliatan banyak gypsi-gypsi berkeliaran.
13

Ini maksudnya sih mau motret kota Paris dari depan Sacre-Coeur kayanya sih, terus persis di depan yang rame orang itu ada atraksi pemain bola di atas tiang atau pantomim gitu deh. Di sini udaranya super dingin. Nggak tau suhu hari itu emang lagi nge-drop atau karena kami lagi ada daerah bukit.

DSC_0525

Terus tau-tau menemukan taman bermain kecil dan Sigi langsung hepi karena bisa naik kuda-kudaan walaupun kesel karena kalau jalan selalu keberatan jaket dan mata ketutupan topi.

32

Rue durantin 14, Montmartre, Paris. Ini sih kayanya salah satu hal yang bikin saya gimanaaaa gitu sama kota Paris. Ini rumah tante saya waktu dia pernah tinggal di Paris selama 20 tahun. Terus ini rumah yang jadi tempat tinggal bapak, ibu, adik dan kerabat dekat lainnya setiap kali mereka ke Paris. Dari semua orang, cuma saya yang nggak pernah ngerasain nginep di sini karena pas akhirnya saya bisa mengunjungi Paris, tante saya malah udah di Jakarta for good. Jadi ya udah, saya cuma bisa foto di depan pintu rumahnya aja, hehe.

Paris5

Nggak boleh ngelewatin semua komidi putar di Paris saat musim semi. Jadi ini komidi putar ketiga yang dikunjungi selama di Paris, hehehe.

Paris10

Di foto ini, si bocah keliatan hepi dan blend in banget sama keseluruhan suasananya ya, hehehe. Padahal ini hari terakhir kami ada di Paris, tapi untungnya udara super cerah sih, jadi memang bikin mood jadi hepi-hepi aja. Moga-moga kami punya kesempatan selanjutnya buat ngajak Sigi ke sini lagi.

Huhuhu kangen!

Blog tersendiri jalan-jalan di Eropa, bisa dilihat di yurep.tumblr.com

2 thoughts on “di pojok-pojok Paris

  1. Salam kenal…. Iya, Paris itu jorok, gak ramah anak, banyak pengemis etc tapi ada sesuatu yang bikin kita pengen balik lagi ke sana… Nice article and photos…

    • hai mbak, bener sekali paris itu nggak secantik yang selalu diperlihatkan di buku dan film, tapi selalu bikin jatuh cinta ternyata🙂 makasih kunjungannya. saya juga baru ngintip blog mbak, seru sekali…aku follow ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s