ada apa dengan bali?

Beberapa hari ini kesambet pikiran aneh: mari lupakan rencana-rencana tentang rumah dan pindah ke…Bali! Lupakan menabung untuk membeli kompor & oven Modena, lupakan rumah berdinding batu bata putih, pokoknya lupakan tentang rumah impian di Jakarta. Tinggal aja di Bali, di sana mau ngapain ya pikirin nanti aja.

Sebenernya sih Putra udah sempet bilang keinginan tentang tinggal di Bali sejak 2 tahun lalu. Tapi ya gitu lah. Terus tau-tau malah aku yang sekarang punya keinginan ini. Apa jangan-jangan ini basian liburan ke Bali yang nggak kelar-kelar? Huhuhu.

Tapi memang sih jadi agak terpicu kembali karena tahun ini, seorang teman baik pindah ke sana. Lalu tiba-tiba beberapa teman lain punya keinginan yang sama. Bahkan kayaknya satu di antaranya sudah akan pindah bulan depan.

Apa sih, ada apa sih dengan Bali? Atau ada apa sebenarnya dengan Jakarta sampai semua orang berbondong-bondong pindah ke Bali? Ya selain macetnya yang nggak nahanin banget itu.

Tapi terus baca tulisan “Surviving a Balinese House Blessing” antara senewen dan geli. Terus sekarang jadi mikir-mikir deh soal pindah ke Bali, hahahaha.

3 thoughts on “ada apa dengan bali?

  1. Hahaha. Nggak selalu kok, Rin. Tergantung banjar (=desa)nya. Rumah yang kita tempatin ini rumah baru. Konon mau ngontrak atau beli, biasanya yang punya/ninggalin mesti bikin upacara itu, semacam “permisi” gitu. Kebetulan banjar tempat kita tinggal termasuk nggak rese. Mau bikin kartu penduduk musiman tinggal datang ke kelian (kepala lingkungan). Pecalangnya gak ngecek/nagih ke rumah2 dan sejauh ini perumahan kita gak disuruh upacara segala macem. Mungkin juga ada faktor penghuninya bukan Hindu. Ya balik lagi ke “kebijakan” banjarnya. Artikel itu hanya cerita salah satu yang “kebetulan” mengalami aja sih, kalau menurut gue. But then again, di mana pun kita tinggal bukankah memang sebaiknya menghargai adat istiadat setempat? Bukan hanya karena kita pernah tinggal di Jakarta yang gak ada gitu2an lantas jadi alergi (btw pendatang Jakarta konon tidak begitu disukai di sini karena dianggap hanya mencaplok lahan & usaha penduduk lokal, apalagi kalau nggak bisa berbaur). Biar gimana pun kan kita yang numpang tinggal di tanah mereka. Kalau ada apa2 dengan kita yang akan bantu juga mereka. Jadi menurutku sih artikel itu jangan jadi faktor penghalang utama. Tinggal di sini sama sekali bukan “libur sepanjang waktu”. Tapi karena kualitas hidup meningkat (fisik & mental), it does feel like it. Kita jadi punya waktu melakukan segala hal yang kita pingin di Jakarta tapi gak ada waktunya. Di lain pihak, banyak kemudahan yang biasa kita dapatkan di Jakarta, di sini harus struggle to get it (contoh: superfast internet connection). It’s a big change, definitely. The problem is, banyak orang Jakarta pindah sini bawa attitude Jakarta. Ya, semoga berhasil. Hahaha.

    Kesimpulan, yang perlu ditanya ke diri sendiri adalah: Siap nggak dengan perubahan besar dalam hidup? Kalau siap sih, housewarming etc won’t be a problem.😉

  2. Haaaa penduduk Jakarta konon tidak disukai? Okeeeh, balik ke rencana rumah berdinding batu bata putih aja kalo gitu, hahahahha.

    Enggak kok La, pikiran ini kayanya (kayanya siiih) basian liburan atau belum puas sama kunjungan ke Bali lalu. Atau juga pelarian dari pikiran tentang rumah impian, hehehe. Tentu saja, nanti kalau akhirnya punya rumah sendiri di lingkungan baru, kami juga akan merasakan hal-hal semacam ini. Mulai dari rumah baru = gak punya kemewahan seperti tinggal di rumah ortu sampai soal hidup bertetangga dan ketemu lah dengan yang namanya selametan rumah, yang mau nggak mau, siap gak siap ya harus dihadapin juga, hehehehe.

    Ya walaupun gitu, kayanya aku sama Putra akan selalu punya keinginan tinggal di luar Jakarta (di mana pun termasuk Bali) tapi kita belum punya keberanian (dan kesempatan) itu sekarang. Suatu hari nanti lah. Rasanya kalo udah ada dua-duanya, ya cerita semacam di artikel ini mah gak ngaruh apa-apa kali ya, hahahaha.

    Tapi tetep sih, artikel ini bikin gue sih ngakak juga bacanya, geblek aja gitu :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s