menikmati peradaban

Akhirnya minggu lalu kami ‘berlibur’ lagi, kali ini tujuannya adalah Singapura. Kenapa saya tulis ‘berlibur’ karena agenda utama ‘liburan’ kami adalah acara pernikahan sepupu, jadi 2 hari pertama di sana sudah terjadwal untuk acara pernikahan. Tapi lumayan sih, setelah acara pernikahan selesai, kami masih punya 2,5 hari buat jalan-jalan bebas.

Dulu-dulu saya nggak terlalu suka dengan ide liburan ke Singapura, soalnya pasti jadinya kayak nggak liburan. Singapura itu menurut saya kota belanja, jadi aktivitas di sana ya pasti belanja. Artinya keluar masuk mall dan toko…iya sih memang untuk mengejar barang-barang incaran yang nggak bisa didapat di Jakarta, tapi aktivitasnya itu lho…gak berasa liburan, biasanya bikin pulang ke Jakarta langsung berasa hampa…apalagi dompetnya x)

Yang saya suka dari liburan ke Singapura adalah bisa jalan-jalan kemana-mana pakai celana pendek tanpa ada yang suit-suitin di jalan, jalan kaki kemana-mana dengan nyaman dan naik kendaraan umum dengan nyaman juga! Pokoknya buat saya, ke Singapura itu wisata peradaban, nggak jauh dari Jakarta, masih di Asia Tenggara tapi memberi kenyamanan fasilitas umum yang jauuuuuh berbeda dari fasilitas umum di Jakarta.

Nah, pas banget kali ini berhubung nilai Rupiah lagi anjlok dan bikin ke Singapura serasa lagi pergi ke Amerika, kami langsung menyusun anggaran biaya dengan baik supaya nggak kelebihan dan kalo bisa, bisa pulang ke Jakarta dengan masih membawa uang dollar. Strateginya: nggak naik taksi sama sekali selama 5,5 hari di Singapura. Soalnya biasanya, paling nggak dari bandara ke hotel atau hotel ke bandara, kami masih suka memilih naik taksi dengan alasan karena rempong membawa koper-koper. Kali ini: nggak boleh sama sekali, dari bandara ke tempat menginap harus naik MRT! Iya, sambil geret-geret koper tentunya. Jalan-jalan kemana-mana harus naik MRT dan bus, pokoknya nggak boleh lemah sama sekali! Pokoknya kalo gak super darurat, nggak boleh naik taksi.

Ok, bring it on!

Hari pertama, awalnya sih sempet ragu mau naik MRT karena koper yang Putra bawa gedeee…denger-denger nggak boleh bawa koper gede kalo naik MRT. Ada juga sih yang bilang nggak apa-apa, asal nggak pas jam sibuk. Akhirnya ya daripada bertanya-tanya sendiri, Putra nanya aja langsung sama petugas, jawabannya: nggak ada larangan dan pas dilihat kopernya pun masih dalam ukuran normal. Hore…berangkat lah kita naik MRT dari Changi sampai Newton! 3 kali ganti kereta sambil geret-geret koper dan dorong stroller plus masih jalan kaki 700m dari stasiun Newton sampai apartemen tempat kami menginap, dan berhasil dengan mulus, yeiy!

Abis itu, jalan-jalan ke Orchard juga naik MRT…yaiyalah…orang cuma beda 1 stasiun, hehehe.

Hari kedua, jadwalnya adalah akad nikah sepupu. Pilihan pertama adalah naik taksi, berhubung para wanita (saya, mamanya Putra dan adiknya Putra) harus memakai kain, pokoknya dandan, males aja gitu kalo jadi kucel karena keringetan kelamaan di jalan naik kendaraan umum. Tapi terus…inget yaaa ini Singapura, bukan Jakarta. Bisnya bukan Metro Mini atau Kopaja, bahkan jauh lebih beradab dari Trans Jakarta. Akhirnya kami memutuskan naik bis aja, berhubung rute terbaik dan yang nggak banyak jalan ya menggunakan bis. Sekali jalan pula, nggak perlu ganti-ganti bis lagi. Konsekuensinya, ya kami harus bangun lebih pagi, ketat dengan jadwal dan bawaannya jadi sedikit lebih banyak karena sepatu pesta harus dijinjing dulu sebelum digunakan di tempat pesta, karena sebelumnya kami akan menggunakan alas kaki ternyaman untuk jalan kaki dari apartemen ke halte bis🙂

Perjalanan dari halte bis Newton, dekat tempat kami menginap, ke halte terdekat mesjid tempat akad nikah, memakan waktu 1 jam. Lama ya, tapiiii…bedanya, perkiraan waktunya tepat banget! Terharu deh! Kalo di Jakarta, mana bisa kayak gini. Pakai mobil pribadi aja nggak bisa memperkirakan waktu tiba di tempat tujuan dengan tepat, apalagi pakai kendaraan umum!

1553332_10152244635853828_851898154_o

Pulangnya pun begitu. Kali ini rame-rame bareng sepupu-sepupu dari Jakarta dan rutenya agak beda. Naik bus dulu lalu sambung MRT. Di sini nih Putra dimarahin, gara-gara masukin stroller tanpa dilipat, soalnya…bis lagi penuh-penuhnya! Awalnya kita lupa ada apa, terus nggak dijelasin lagi sama si supir, cuma teriak-teriak,”NO! NO!” Maklum kami juga masuk ke bis dengan terburu-buru karena sempet lari 50m demi mengejar bis x) terus baru inget lah, oh iya harus lipet stroller😀 dan…supir bis kan orang Cina daratan yang nggak bisa berbahasa Inggris, hehehe. Seru deh pengalaman diomelin ini…mana rombongannya banyak banget lagi, dududu x)

Malamnya pun masih berlanjut pakai kendaraan umum. Kami mau makan malam rame-rame chicken hainam terenak di Singapura, Boon Tong Kee, deket-deket Clark Quay. Menurut Google Map, kami harus naik bis nomer sekian dan turun di halte ke-5. Yah, kalo udah berhasil naik bis dari Newton ke Tampines, ini mah keciiilll *sok* *ditabok* dan iya, pulangnya pun walaupun sempet salah jalur, tapi berhasil juga tiba di rumah dengan selamat pakai bis lagi🙂

Hari ketiga, ini juga mulai makin sok deh kami. Jadi, acara hari ini adalah resepsi di rumah pengantin perempuan, yah semacam ngunduh mantu gitu lah. Nah, keluarga pengantin pria mengharapkan kita semua berkumpul dulu di rumah mereka dan pergi bersama-sama naik bis sewaan ke rumah pengantin wanita. Cumaaaa kalau melihat rute, dari tempat kami menginap ternyata lebih dekat ke rumah pengantin wanita daripada ke rumah pengantin pria. Daripada bolak-balik dan bangun lebih pagi, kayaknya enakan langsung aja deh.

Kali ini naik MRT aja, tapi walaupun sejalur, tetep rumah si pengantin wanita ini juga jauuuuuh. Tapi tetep, sejauh-jauhnya, kami nggak keberatan sama sekali karena waktu perjalanan tetap bisa diperhitungkan dengan tepat, jadi buat kami, ini mewaaaaah! Benar lho, kami tiba saat acara baru saja dimulai, itu pun telat sedikiiit karena sempat salah orientasi dan harus jalan kaki 700m dari stasiun MRT ke lokasi acara, jadi masih sesuai perkiraan waktu lah, canggih ya x)

Pulangnya pun kembali naik MRT. Lagi-lagi orang tua sepupu kami sang pengantin, bengong dengan semangat kami karena mereka yang warga Singapura aja belum pernah tuh naik kendaraan umum sejauh itu dan pasti juga nggak ngerti harus naik MRT atau bis nomer berapa. Sementara kami, orang Jakarta, malah bolak balik naik MRT dan bis, ke daerah yang asing, pake baju kondangan pulak, hahahaha.

Hari keempat, acaranya adalah ke kebun binatang. Iya, acara kawinan udah kelarrrr…sekarang boleh jalan-jalan bebas sendiri, horeeeee! Kali ini saya agak senewen, karena perjalanan hari itu agak rempong. Sebelum ke kebun binatang, kami harus pindah tempat menginap di Bugis dulu karena siang itu mama dan adiknya Putra harus check out dari apartemen Newton dan pulang ke Jakarta. Ya udah jalanin aja lah: geret 1 koper besar, 1 koper medium sambil dorong stroller, naik MRT dan pindah 2 kali. Eh ternyata bisa tuh! Nyampe juga tuh di hotel buat early check in dan titip koper-koper, yeiy!

Nah senewen berikutnya, kami udah berpisah dari GPS hidup kami alias adiknya Putra yang kemarin-kemarin menuntun kami dengan HP-nya. Ya pastinya saya dan Putra udah sempet menyimpan rute dari Google Map (plus screen shot-nya juga, karena takut nggak dapet WiFi dan GPS nggak aktif di jalan), tapi ya senewen aja, hehehe. Setelah melihat rute MRT ke kebun binatang agak ruwet, akhirnya kami memilih naik bis saja, nomer 960 dari depan Sim Lim Square, kira-kira 100m dari hotel kami. Setelah itu cukup 1x ganti dan langsung berhenti di halte kebun binatang. Pas turun di halte tujuan untuk ganti bis, sempet senewen juga karena daerahnya sepi abis, hahaha terus bisnya juga jarang banget…tapi akhirnya bis yang dinanti datang juga…dan penuh berat x))

Ya gitu deh, singkat cerita berhasil juga menempuh perjalanan 1 jam 20 menit dari Bugis ke Singapore Zoo, yeiy! Lagi-lagi, sesuai perkiraan waktu, canggih! Plus sesuai jadwal ketemuan dengan sepupu-sepupu lainnya, lebih awal malah, tos dulu sama Putra & Sigi😀

1531877_10152254376833828_1269621285_o

Naaaahh…berhubung masih suasana imlek, kebun binatang rame abissssss…ya semacam Ragunan di kala lebaran gitu kali yaaa. Antrian tiketnya…wohhhh! Langsung nyesel nggak beli online. Cuma bukan Singapura namanya kalo antrian lelet…ini cepet banget lho! Nggak nyangka deh. Itu udah pake gondok di tengah antrian karena baru ngeh ada booth online ticket cuma karena pembayaran musti pakai CC dan CC-nya ada di Putra yang udah ngilang sama Sigi buat cari makan…ya sudah lah, toh antri manual juga nggak selama yang gue bayangkan.

Daaaaann…secendol-cendolnya antrian tiket, pas masuk di dalam kebun binatang, relatif lega aja tuh. Ya tempat makan sih antri abis, terus waterpark-nya juga penuuuh di setiap sisinya. Cuma, tetep lah masih beradab. Sigi masih bisa menikmati lari-larian main air dan saya masih tetap dapat tempat duduk selama menunggui Sigi dan Putra. Intinya suasana rame itu masih bisa dinikmati lah, gak bikin menderita sama sekali.

Pulangnya pun lanjut naik kendaraan umum. Kali ini mau ganti rute, karena mau sekalian ke Takashimaya, jadi naik bis dari kebun binatang ke stasiun MRT Ang Mo Kio. Nah ini nih rasanya naik bis terlama dan terjauh, mungkin karena bis penuh banget nggak bisa liat keluar lalu si bocah ketiduran di pangkuan dan saya bener-bener buta musti turun di halte yang mana sementara Google Map-nya ada di Putra yang berdiri agak jauh dari saya. Setelah nanya orang, eh ternyata stasiun MRT Ang Mo Kio adalah pemberhentian terakhir. Rasanya lega banget pas akhirnya turun, hihihi. Setelah itu sih gampil, langsung cus dari Ang Mo Kio ke stasiun Orchard, nggak pake pindah-pindah lagi x)

Hari-hari berikutnya pun udah lebih gampang lagi karena pilihan tujuannya juga nggak rumit. Hari kelima, kami ke Singapore Science Center. Ini pun tinggal naik MRT sekali lalu jalan kaki 800m dari stasiun MRT Jurong East. Alhamdulillah, lancar dan nyaman aja perjalanannya.

1000952_10152249907628828_1019783522_n

Pulangnya mampir dulu ke IKEA Alexandra dan itu pun masih menggunakan jalur MRT yang sama. Tadinya mau pulang naik bis ke Bugis, tapiii taunya Sigi ketiduran dan bawaannya kita banyak…males lah ya gendong-gendong dan harus lipet stroller pula, mending dapet tempat duduk. Akhirnya jalan kaki lagi buat naik MRT. Di sini nih baru kerasa capeknya jalan kaki, tapi lagi-lagi nggak keberatan karena mikir: lumayan pengganti olahraga yang udah bolos beberapa hari x) MRT super penuh karena memang jam bubaran kantor, tapi tetep…lebih mending daripada naik KRL di Jakarta lah, hahaha. Putra dan Sigi masih ngelanjutin petualangannya mau ke Toys R Us di Paragon dan makan malam dengan sepupu, sementara saya sudah mengibarkan bendera putih, nyerah…capek gila dan badan mulai berasa mau sakit, pulang aja deh!

Di hari terakhir kami sama sekali nggak naik kendaraan, tapi malah jalan kaki terus karena rutenya memang sekitar hotel tempat menginap, yaitu Bugis dan Bras Basah, nggak kemana-mana lagi. Yang tadinya mau naik MRT ke bandara, eh taunya dijemput oleh oom dan tante kami dan diantar langsung ke bandara. Artinya kami berhasil sama sekali nggak naik taksi selama di Singapura, horeeeeee, well done!

Kayanya penting amat yaaaa saya bikin postingan ini tapi asli lho, saya menikmati banget lho naik kendaraan umum di Singapura. Saya memang penggemar alat transportasi masal, cuma kalau di Jakarta kan nggak nyaman, jadi malessss banget rasanya. Kalau punya pilihan naik kendaraan pribadi ya jelas lebih milih naik kendaraan pribadi lah.  Ya itu lah kenapa saya memilih naik bis dan MRT  di Singapura daripada naik taksi karena saya pingin menikmati hal yang nggak bisa saya dapatkan di Jakarta, ya selain karena mau irit ongkos. Mumpung!

Saya yakin kok suatu hari nanti Jakarta juga akan begitu. Optimis! Jakarta pasti akan mencapai peradaban itu, walaupun…entah kapan x)

6 thoughts on “menikmati peradaban

  1. gue juga suka naik transportasi umum. kadang di sini naik metromini/angkot trus kena angin suka terharu sendiri. kalo naik mrt/bus di singapura suka pengen meluk tiang trus bawa mesin swipe-nya ke jakarta heheh
    etapi naik bus dari/ke kebun binatang itu emang bisa disambi tidur saking jauhnya ya. nyoba ke river safari juga nggak? lumayan seru😀

    • hahahhahahaha ah wening, kamu komen aja kocak…tolong blog-nya diisi lagi dong🙂 iya ngantuk banget deh itu perjalanan kebun binatang, apalagi pas pulangnya…mana pliket! kemarin nggak ke river safari ning, abis kayaknya zoo lebih banyak yang diliat dan aktivitasnya. kapan-kapan deeehh

  2. kamu nginep di mayo kah setelah pindah dari apartment? kalo iya, kan ada shuttle bus ke zoo :p
    gretong pun hahaha … kapan2 jalan2 bareng yuk ke sing. kalo kata titan, negara otomatis : )))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s