penginapan kecil

Menginap di hotel besar dan berbintang sudah bukan jadi pilihan saya dan Putra setiap kali jalan-jalan. Selain pertimbangan biaya, ternyata tinggal di penginapan kecil, losmen, menyewa rumah/apartemen orang malah lebih terasa ‘traveling’nya. Dari pengalaman yang sudah-sudah, kami jadi punya kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi dengan orang lokal setempat dan eksplorasi lingkungan lokal -bukan area turis. Paling tidak, ini yang kami rasakan saat menyewa kamar di rumah sepasang suami istri di Amsterdam dan juga saat menyewa kamar di sebuah hostel di Barcelona. Kami jadi dapet kartu diskon untuk belanja di supermarket lokal dan bisa menemukan berbagai toko dan tempat makan lucu yang nggak umum.

Tinggal di penginapan kecil a la rumahan yang bukan di area turis juga membuat proses adaptasi suasana dan lingkungan baru jadi lebih mudah buat Sigi. Biarpun mengunjungi tempat baru, harus keluar dari zona nyaman (seperti nggak selalu bisa makan nasi putih, hehehe) dan ketemu orang-orang asing, dia bisa santai lagi begitu masuk ke penginapan yang suasananya nggak beda dengan suasana di rumah. Buat saya ini penting karena saya nggak mau traveling dengan anak rewel dan dari pengalaman cara ini cukup ampuh bagi kelancaran traveling bersama balita. Mungkin pada dasarnya Sigi memang anak rumahan ya, jadi sekalinya dapet tempat menginap yang suasananya rumahan, ya langsung klop.

Untung lah sekarang udah ada airbnb.com jadi kebutuhan saya untuk mendapatkan penginapan kecil, rumah/apartemen sewaan jadi terakomodir. Salah satu kegiatan yang paling menarik (sekaligus sakit kepala) saat menyusun rencana perjalanan adalah browsing situs airbnb dan tripadvisor. Saya bisa lhooo deg-degan kalau tiba-tiba menemukan tempat menginap incaran! Antara excited dan takut gak dapet tempat gitu lah, hehehe. Ya mungkin ini bisa disebut sebagai salah satu ‘keuntungan’ jadi pelancong ekonomis.

Pengalaman terbaru menginap di penginapan kecil adalah menginap di the Sayana Bed & Breakfast hari Selasa sampai Kamis lalu. Saya nggak sengaja menemukan tempat ini saat googling di internet. Tampilan rumah ini memang mengundang selera banget, jadi saya buru-buru mencari tahu di blog mereka dan situs Agoda. Awalnya saya agak ragu untuk menyewa salah satu kamar di the Sayana karena sempat tertulis peraturan tamu minimal berusia 9 tahun. Wah, kalo gini artinya sama aja nggak boleh ada tamu balita dong ya?

Akhirnya karena waktu mepet dan tidak sempat mencari tempat lain, saya nekat saja mengirim email untuk menanyakan soal ketersediaan kamar untuk kami: dua orang dewasa dan satu balita (3,5 tahun). Eh, ternyata respon mereka hanya berupa info kamar, info alamat dan tidak ada penjelasan soal larangan tamu balita. Oh ternyata mereka telah merevisi aturan baru: Quiet Hours dan Quiet Zone antara jam 7 malam hingga jam 7 pagi. Horeeee! Langsung lah surel kembali dibalas untuk mengkonfirmasi kami akan menginap di sana.

Salah satu hal yang buat saya tertarik mencoba menginap di the Sayana adalah karena mereka punya dapur. Bagus pula! Tentu saja saya langsung meleleh saat melihatnya…

IMG_9385IMG_9407 IMG_9387IMG_9386 IMG_9404IMG_9460 IMG_9458IMG_9457IMG_9456

Kamar yang kami tempati selama di the Sayana adalah kamar pilihan Sigi: ada 4 kasur single di lantai atas. Alasan Sigi memilih kamar ini gara-gara abis membaca cerita Goldilocks😀 Jadi ceritanya kami adalah keluarga beruang, satu kasur untuk bapak beruang, satu kasur untuk ibu beruang, satu kasur lagi untuk anak beruang…

IMG_9475 IMG_9477 IMG_9476IMG_9480IMG_9394

Yang juga bikin mata saya berbinar-binar sejak tiba di the Sayana adalah rimbunnya taman kecil di halaman belakang. Rasanya seperti masuk ke dalam hutan tropis mini.

IMG_9383IMG_9418 IMG_9417IMG_9418IMG_9469IMG_9472

Selain tempatnya nyaman, lokasinya pun ternyata cukup strategis. Kalau mau jalan kaki ke arah jalan Veteran atau jalan Sumatera bisa menemukan beberapa tempat makan cukup besar dan ternama. Sementara kalau jalan kaki ke arah jalan Sunda juga ada supermarket dan departemen store Yogya. Jadi aman lah kalau lapar atau butuh membeli keperluan sehari-hari, semua tempat terjangkau tanpa harus naik kendaraan.

IMG_9467IMG_9465 IMG_9414IMG_9413 IMG_9415IMG_9473 IMG_9474IMG_9478

Soal aturan Quiet Hours & Quiet Zone, rasanya sih wajar dan nggak susah buat diikuti. Untungnya jam tidur malam Sigi pun jam 20:30, jadi biasanya mulai jam 7 malam biasanya kegiatan yang dilakukan pun udah kegiatan santai-santai dan tenang. Kalau yang kami lakukan kemarin sih pergi seharian lalu tiba di the Sayana sudah siap untuk mandi dan istirahat, jadi makanya saya nggak khawatir Sigi bakalan bikin keributan, hehehe.

Jadi setelah merasakan beberapa penginapan mungil di Bandung, kayanya the Sayana B&B benar-benar bikin saya dan Putra kesengsem berat.

Kualitas tidur selama di the Sayana baik banget karena lingkungan yang sepi; Frans, tuan rumah yang menerima kami pun ramah sekali, selain juga para staf rumah Sayana yang murah senyum; sarapan yang disediakan sih standar (nasi kuning/nasi goreng, sereal, bubur gandum, roti-rotian) tapi buat saya sih cukup banget, lagipula dapur lengkap dan tamu bebas untuk menggunakan, jadi kalau mau bikin menu sarapan sendiri pun sebenarnya bisa. Tapi tetep, yang utama, tarif kamar-kamar the Sayana sesuai anggaran kami banget-bangetan, hihihi.

Kesimpulannya, kami akan kembali lagi ke the Sayana pada perjalanan ke Bandung berikutnya.

-Selain the Sayana, di Bandung memang udah banyak sekali penginapan kecil seperti itu. Beberapa tempat yang jadi kami coba dan jadi langganan kami antara lain Domein28, Hummingbird Guesthouse, Concordia di Bumi Sangkuriang. Ada satu tempat incaran yang sepertinya menarik juga, namanya Casa de Lillian. Senang juga mengetahui banyak tempat alternatif baru yang cocok buat pelancong ekonomis dan anak rumahan seperti kami ini🙂

2 thoughts on “penginapan kecil

  1. hallo mbak Rina, apa kabar? ini frans. wah saya baca dan saya copy foto-fotonya. staff sayana pada ketawa-ketawa karena kefoto. hehe. mbak Rina, pagi ini akhirnya wifi diperbaiki, standard rooms sama family roomnya jadi kebagian wifi. Sigi apa kabar, mbak? aku lanjut lagi ah baca-baca artikel-artikel mbak Rina hehe

    • ehhh hai frans! ya ampun baru buka blog lagi dan baru liat komen ini x) horeeee ikut seneng kalau frans seneng membaca cerita saya tentang sayana. sigi baik-baik aja baru mulai sekolah lagi. wah nggak sabar main ke bandung lagi dan nginep di sayana. makasih ya frans udah berkunjung ke blog saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s