when there’s sadness, there will be joy

Tahun ini, sepertinya film yang paling mengesankan buat saya adalah “Inside Out”. Walaupun agak kurang valid sih, berhubung jarang nonton juga dan banyak film bioskop yang terlewat, hehehe. Saking berkesannya, saya sampai kepikiran berminggu-minggu pingin cerita di blog ini cuma ya akhirnya baru kesampean sekarang deh.

Yang berkesan dari film ini pertama kali adalah trailer-nya yang menarik sampai membuat saya lupa untuk memeriksa rating film animasi ini sebelum mengajak Sigi menonton di bioskop. Maksudnya, nggak semua film animasi itu dibuat untuk anak balita!

Mengesankan kedua, ceritanya yang buat saya jleb banget. Setelah Up, Inside Out ini berhasil bikin saya termewek-mewek berlinangan air mata di dalam bioskop. Ternyata, penulis ceritanya memang orang yang sama sih. Pantesan ya!

Lalu yang ketiga adalah film ini mengajarkan dan mengingatkan saya tentang pengasuhan anak.

Awalnya, saya ajak Sigi menonton ini supaya dia belajar tentang emosi. Nyatanya, karena ceritanya masih terlalu kompleks untuk balita, dia nggak bisa ngikutin. Selama di dalam ruang teater bioskop, Sigi banyak tanya dan saya agak kelabakan menjelaskan dengan bahasa dan ilustrasi yang bisa dipahami Sigi. Untungnya karena karakternya lucu, Sigi nggak merasa kebosenan selama film berlangsung sehingga kami bisa tetap di dalam ruang teater sampai film selesai (nggak seperti biasanya!).

Jadi, bukannya Sigi yang belajar dari film ini, malah saya yang banyak dapet sesuatu dari sini.

Gitu lah, saya mengaku kalau selama ini saya lebih sering mendorong Sigi untuk selalu bersikap senang dan jangan gampang nangis. Apalagi marah-marah. Musti sabar. Mungkin ini alam bawah sadar juga ya sehingga otomatis kami selalu mengajarkan Sigi untuk bersikap manis dalam keadaan apapun. Mungkin juga ini akibat ajaran lingkungan: anak manis itu lebih disukai, jadinya ya otomatis kami mengajarkan itu tanpa pembekalan lebih tentang emosi dan perasaan.

Sering kali kami lupa untuk membantu Sigi mengeksplorasi perasaan dan emosinya. Sering kali kami bilang ke dia untuk nggak menangis kecuali saat jatuh/ kesakitan. Sering kali kami bilang menangis/ bersikap mudah menangis itu nggak boleh dimiliki sama anak laki-laki. Intinya, kami mengagungkan sikap manis dan ceria pada Sigi sehingga dia selalu bersikap demikian.

Pembelaan saya sih, kami mendorong sikap-sikap itu agar Sigi bisa bersikap selalu positif. Tapi lalu film ini membawa saya ke jaman saya duduk di bangku SMA. Waktu itu saya berusia 15 tahun dan pergi sendiri ke luar negeri, tinggal di rumah orang “asing” selama satu tahun jauh dari orang tua saya. Dunia belum terhubungkan melalui internet waktu itu, jadi saya lebih sering berkomunikasi melalui surat konvensional alias melalui pos yang butuh waktu berminggu-minggu diterima. Kadang-kadang melalui telpon juga sih, tapi tentu saja hanya di waktu-waktu tertentu dengan durasi yang super terbatas (karena mahal banget kan ya!).

3-6 bulan pertama di negeri orang, cerita yang saya tulis di surat memberi kesan pada orang tua saya kalau saya baik-baik aja, selalu gembira, nggak ada kesusahan atau kesedihan. Sampai suatu hari, entah melalui telpon atau surat atau dalam laporan bulanan (iya, setiap bulannya, murid pertukaran pelajar harus membuat laporan general untuk dikirim ke pengurus), saya bercerita tentang hal-hal yang membuat saya sedih/ mengganggu saat itu. Curhat gitu lah, pokoknya.

Di luar dugaan, orang tua saya mengatakan di surat balasan mereka kalau mereka malah “lega” saat cerita sedih itu muncul. Mereka bilang mereka justru merasa aneh kalau saya gembira terus menerus. Kalau ternyata ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan saya “berani” bercerita, artinya mereka juga bisa cepat “membantu” dan masalah itu bisa segera diselesaikan.

Kebayang kan kalau saya menekan perasaan sedih/ marah saya dan menganggap semuanya baik-baik saja, jangan-jangan masalah itu malah jadi membesar dan malah makin rumit untuk diperbaiki. Kalau saja waktu itu saya juga nggak bisa mengeluarkan emosi dan bercerita pada mereka, bisa aja suatu hari saya malah jadi meledak. Terus terang, saya memang bukan orang yang terbuka dan gampang curhat, tapi kondisi ‘sendirian’ jauh dari comfort zone saat itu, akhirnya membuat saya jadi bisa mengeluarkan perasaan saya.

Intinya sih, sesuai dengan pesan dari film ini  (maaf yaaaa kalau jadi spoiler), saya ingin mengajarkan Sigi untuk lebih mengenal perasaan dan emosinya sehingga dia bisa mengeluarkan emosinya tersebut. Dan bahwa semua emosi itu harus dikeluarkan, jangan ditutup-tutupi karena takutnya malah akan menyusahkan diri sendiri di kemudian hari.

Soalnya, bisa jadi sikap gengsi Sigi itu dipicu akibat ‘salah asuh’ itu, huhuhu. Mudah-mudahan pesan saya ke Sigi ini bisa membantu Sigi untuk bisa lebih mengenal dirinya sendiri ya.

“Gi, Sadness (si sedih) nggak bisa terpisah lho dari Joy (si senang), mereka musti bareng kemana-mana. Joy itu ada kalau si sadness itu ada juga. Jadi, nggak papa ya kalau Sigi ngerasa sedih dan pingin nangis…”

It’s actually, a good reminder for me too.

Mudah-mudahan saya juga bisa jadi pendengar yang baik kalau suatu hari nanti Sigi butuh curhat🙂

IMG_3231

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s