sekolah (2)

Di sesi makan siang hari ini nggak sengaja jadi ngobrolin sekolah sama pakbos. Jangan sedih, dia aja yang anak-anaknya sudah mau masuk tingkat SMP dan SMA aja masih galau dan sakit kepala buat mikirin milih sekolah. Jadi, hitungannya, saya nih masih tahap pemula ya. Hiks, akan kah ini berakhir?

Obrolannya sih nggak serius. Si pakbos cuma berbagi pandangan dan pengalaman aja soal memilih sekolah. Tentunya saya tanggapi dengan serius karena doi berpengalaman dengan 3 orang anak. Ih, saya aja ngurusin sekolah 1 anak galaunya nggak selesai-selesai, gimana doi ya?

Dari obrolannya, saya menangkap bahwa anak jaman sekarang (apa yah, generasi Y?) lebih maju dan bisa berpandangan jauh ke depan ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Mereka sudah tau sekolah apa yang ingin mereka tuju sesuai cita-citanya. Contohnya anak-anak si pakbos ini. Mungkin karena referensi yang dia peroleh banyak plus si anak berteman dengan anak-anak yang juga semangat sekolah sehingga akhirnya dia mau nggak mau terbawa lingkungannya. Plus, bisa jadi karakter sekolahnya yang membuat dia seperti itu. Buat saya, hebat banget lho, di usia yang muda sudah punya keyakinan dan determinasi untuk meraih yang dia inginkan. Diinget-inget, di usia mereka dulu, saya kayaknya cuma tahu main karet dan mikirin gebetan.

Terus obrolannya berlanjut, gimana sekolah si A, B, C, anak-anak pakbos itu, sangat sesuai karakter mereka masing-masing. Gimana ketika A nggak hepi karena karakter sekolah 1 nggak nyambung sama karakter dirinya mengakibatkan nilai akademiknya jeblok! Lalu, ketika A pindah ke sekolah 2 yang karakternya nyambung sama karakter dirinya, nilainya pun langsung meningkat drastis! Sementara adiknya, si B, ternyata nyambung-nyambung aja dengan karakter sekolah 1. Jadi lah dia hepi-hepi aja dan nilainya tetap bagus-bagus aja selama sekolah di situ, berbeda dengan A, kakaknya.

Akhirnya obrolan sampai juga deh kepada pakbos memberikan wejangan, setelah menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan 3 anaknya. Kira-kira ini saya dapatkan dari obrolan dan wejangan si bapak. Saya bikin poin-poin aja deh karena akan lebih mudah dicerna, hihihi.

  • Cari sekolah yang memiliki tradisi. Kebetulan yang diangkat sebagai contoh adalah beberapa sekolah berbasis agama (Katolik) yang rata-rata memang berangkat dari tradisi/ ajaran agama. Sekolah yang memiliki tradisi kuat biasanya memiliki kualitas yang bagus dan jelas. Rata-rata (atau kebanyakan) sekolah negeri tidak memiliki tradisi ini, jadi makanya kualitasnya suka turun naik juga. Tapi ini pendapat dia yaaaaa.
  • Ingat kurikulum pendidikan Indonesia! Kalau pingin masukin anak ke sekolah yang memiliki kurikulum dan metode “alternatif”, artinya sekolah-sekolah yang tidak mengedepankan akademik/ ulangan-ulangan seperti layaknya sekolah-sekolah konvensional, pastikan kita bisa terus menyekolahkan sampai jenjang tertinggi di sekolah-sekolah yang menawarkan metode serupa. Kalau tidak, pastikan untuk mempersiapkan si anak jika sewaktu-waktu dia pindah dari sekolah metode alternatif ke sekolah konvensional yang karakternya beda 360 derajat. Mau nggak mau, kita akan dipertemukan pada kekisruhan semacam ini jika sistem pendidikan di Indonesia ya carut marut gak jelas kayak gini terus.
  • Kenali karakter anak dan pelajari karakter sekolah. Bener-bener musti banget deh mengenali anak. Sekolah yang kita bilang bagus belum tentu cocok buat si anak. Sekolah yang kayaknya favorit belum tentu akan disukai sama si anak. Deja vu deh, sekolah pertama Sigi yang latar belakangnya bagus (guru-guru dari fakultas psikologi universitas top Indonesia, berada di lingkungan pendidikan) ternyata buat Sigi nggak seru karena secara tampilan memang “tua” dan kurang menarik. Waktu dia pindah ke sekolah lain yang secara desain lebih modern, dia langsung jatuh cinta seketika dan no more dramas! Untung lah konsep sekolah baru ini juga bagus dan menarik, jadi saya pun juga ikutan jatuh cinta.
  • Sekolah yang berbasis agama bisa jadi lebih heterogen dibanding sekolah umum. Heterogen di sini dalam arti murid-muridnya datang dari status sosial ekonomi yang berbeda-beda dengan latar belakang keluarga yang juga tidak satu level.
  • Ini masih nyambung dengan status sosial ekonomi dan lingkungan heterogen. Coba perhatikan lifestyle murid-murid yang datang ke sekolah itu. Sanggup nggak si anak (dan kami) mengikuti gaya hidup/ gaya pengasuhan dan kebiasaan murid dan orang tua di sekolah tersebut.
  • Pilih sekolah negeri hanya jika si anak merasa sanggup belajar mandiri tanpa bimbingan/ asuhan/ tuntunan guru. Sekolah negeri itu cerminan negeri ini banget, menurut si pakbos. Yang rajin belajar ya rajin sendiri, yang pinter ya pinter, yang males ya males. Suka-suka aja lah! Sama kayak negeri ini: yang makin kaya ya makin kaya, yang miskin ya makin miskin. Tapi tetep aja sih, masuk SMA negeri (terutama yang unggulan) punya kesempatan lebih banyak untuk bisa masuk universitas negeri.

Kira-kira begitu lah. Pastinya, obrolan ini akan jadi bahan pemikiran dan pertimbangan lagi buat memilih sekolah. Tapi paling nggak dipungkiri, saya kepikiran dan galau banget gini karena sistem pendidikan Indonesia dan kurikulumnya memang nggak asik. Maafkan ya kalau ada pembaca yang bosan dengan postingan-postingan saya tentang mencari sekolah ini, hehehehehe.

Sampai jumpa di postingan tentang ‘mencari sekolah’ berikutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s