bermalam di hutan pinus

Sebenernya udah lama banget pingin bertualang di alam. Cumaaaa, nggak pernah nemu momen yang pas dan…teman-teman yang pas juga! Sampai akhirnya ada Sigi, keinginan ini ternyata makin membuncah karena pingin banget si bocah kenal alam, nggak cuma kenal mall, hehehe.

Akhirnya gayung bersambut, ketemu juga sama geng mamak-mamak haus liburan, pun dapet momen yang pas. Setelah menyusun rencana dari satu bulan sebelumnya, kami berangkat juga kemping bersama dua keluarga lainnya. Nggak jauh-jauh kok, cuma di Gunung Pancar, di daerah Sentul. Area kempingnya cantik karena berada di hutan pinus.

Buat percobaan pertama kemping ini, kami kompak memilih kemping gaya cantik aja, alias glamour camping (glamping). Soalnya bener-bener pengalaman pertama banget nih! Bawa anak pula, jadi agak jiper juga sebenernya. Kebetulan Gunung Pancar punya paket kemping cantik ini. Kita tinggal bawa badan dan perlengkapan pribadi aja. Tenda udah siap, pake kasur pula, bahkan bisa disiapin makanan pula. Nah, soal makanan kami akhirnya memilih bawa sendiri, karena takut nggak cocok sama makanannya, lagian walaupun kemping cantik, tetep pingin juga sih ngerasain masak-masak di alam gitu.

Untuk paket kemping Gunung Pancar, bisa langsung cek di sini mereka juga punya paket lainnya selain glamping. Untuk glamping, mereka menggunakan operator khusus, silakan cek di sini.

Pas hari H, kami berangkat dari Jakarta jam 7 pagi, karena nggak mau terjebak bersama pengunjung Jungle Land yang memang masih satu area.

Gunung Pancar ini ternyata gampang kok rutenya. Dari toll JORR, ambil jalur ke Jagorawi arah Bogor. Keluar di exit Sentul Selatan/ Sentul City. Dari situ, cari aja petunjuk arah Jungle Land. Ikutin terus jalannya (kira-kira 5km) sampai ketemu bunderan besar Sentul Nirwana. Belok kiri lalu lurus lagi sampai ketemu gerbang Jungle Land. Persis sebelum gerbang, belok ke kanan lalu ikuti jalan menanjak sepanjang 2-3km.

Pas tiba di tempat, baru lah gue tahu kalo ada jam check-in nya! Hahaha, ternyata glamping itu memang kayak nginep di hotel ya. Jadi akhirnya kami menunggu sampai tenda disiapkan dan area dibersihkan sambil jalan kaki keliling-keliling, piknik, dan makan siang.

 

Setelah makan siang makanan pre-heat, leyeh-leyeh pun dimulai. Mungkin akibat bangun kepagian, jadinya ngantuk banget. Tapi bocah-bocah tetep lah, nggak bisa diem. Naik sepeda, main bola, kejar-kejaran, ngemil, naik-naik batu besar yang memang tersebar di situ, dan seterusnya. Seneng banget deh liat mereka menikmati main di hutan pinus. Sementara para ortu, berhubung sinyal henpon juga hilang, ngobrol-ngobrol aja sambil kriyep-kriyep.

12310482_10153725444868828_4462180819318055240_n

Ranting-ranting jadi tongkat biar jadi kakek-kakek, kata mereka.

12311030_10153726140703828_695137281135972408_n

Atau bisa juga dibentuk jadi panah

Rasanya waktu berjalan lambat banget di sana, tapi anak-anak tetep menolak tidur siang (ini sebenernya ibunya yang ngantuk banget sih, hehe), jadi akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling area sendiri. Oh iya, sebenernya paket glamping sudah termasuk trekking yang dipandu oleh jagawana, tapi kami memutuskan untuk mengambil sesi itu pagi hari di hari berikutnya saja.

 

Udah jalan-jalan, baca dongeng, ketawa-tiwi, ngemil lagi, pas liat jam, ternyata baru jam 15:30! Hihihi, bener-bener waktu berjalan lambat di sini. Tapi berhubung rasanya sudah melewati hari yang panjang, sebelum gelap dan anak-anak kecapean, mereka pun kami giring untuk mandi sore.

Ternyata, keputusan mandi dan mempersiapkan makan malam lebih awal adalah keputusan yang tepat. Kira-kira pukul16:30, langit menggelap dan angin pun bertiup lebih kencang. Uh-oh, tanda-tanda hujan mau turun, badai malah! Padahal untuk makan malam, rencananya mau bakar-bakar sate dan jagung!

Walaupun deg-degan kejar-kejaran sama hujan, kami pun bisa mempersiapkan makan malam di tengah angin bertiup kencang. Bocah-bocah sudah kami siapkan untuk memakai jaket dan jas hujan, jadi kalau hujan turun, udah nggak perlu lari-larian cari jaket dan payung.

Akhirnya, kalah juga sama badai. Hujan datang saat kami masih memanggang sate dan jagung. Untung lah alat panggang sudah dipindah ke tempat yang aman, jadi para bapak masih bisa lanjut memanggang. Lalu karena tempat terbatas, biar nggak kebasahan, kami makan malam sambil berdiri. Di tengah-tengah makan, angin kencang menerpa tenda-tenda, tenda meja makan kami sempat rubuh, sementara tenda tempat kami tidur pun sempat tampias. Jadi di saat yang bersamaan, ibu-ibu sibuk megangin atap tenda makan, bapak-bapak pun sibuk mengurus tenda-tenda tempat tidur.

Untung lah ada para jagawana. Tiang-tiang penyangga tenda langsung ditegakkan, parit di sekeliling tenda langsung digali lebih dalam, air-air yang menggenang langsung dibuang.

Tapi yang paling hebat adalah para bocah. Saat segala kehebohan terjadi, mereka diam manis, nggak rewel, patuh waktu disuruh melipir ke bagian tenda yang lebih aman dan hangat, bahkan salah satunya tetap asyik menggerogoti jagung. Bangga deh melihat mereka kooperatif gitu!

Untung lah hujan badai itu nggak berlangsung lama. Setelah hujan selama satu jam, para bocah pun mulai mengeluh mengantuk. Baru lah kerasa kalau memang sudah ngantuk dan capek, akhirnya kami semua pun pamit masuk tenda masing-masing. Eh, pas liat jam: baru jam 18:30 saja! Ya sudah lah, memang sudah waktunya tidur juga, karena listrik juga dipadamkan untuk mencegah korslet akibat hujan badai.

Setelah saling sahut-sahutan ‘good night’ dari tenda-tenda berkali-kali, akhirnya para bocah pun tertidur. Para mamak dan bapak juga ikutan tepar. Gue dan Putra? Kami mengendap-endap cari popmie. Ternyata masih perlu menghangatkan perut biar bisa tidur😀

Besok paginya, kebangun karena salah satu bocah sudah teriak manggil-manggil, Sigi! Sigi! Pas liat jam, ternyata sudah jam 5. Wow, surprise juga ternyata kami, terutama Sigi, bisa tidur lelap sampai pagi di dalam tenda. Pas dipanggil namanya pun Sigi langsung bangun dan semangat keluar tenda…kayaknya nggak sabar banget buat main lagi sama temen-temennya!

Berhubung malamnya nggak berhasil menyalakan api unggun, akhirnya api unggun dibakar di pagi buta yang masih gelap itu. Senangnyaaa para bocah bisa berapi unggun, berasa kemping beneran deh!

Sementara para ortu menyiapkan sarapan, bocah-bocah kembali bergerilya di hutan pinus (membangunkan para campers di tenda-tenda lain maksudnya, hihihi).

Akhirnya sarapan pun jadi, walaupun sempat terjadi insiden tombol rice cooker lupa digeser ke “cook”. Perut hangat, hati senang, dan anak-anak makin berenerji!

Saatnya trekking!

Untuk trekking ini kami bisa menyesuaikan dengan kemampuan kami. Berhubung pas jalan-jalan sebelumnya, para bocah mengeluh capek dan berakhir minta gendong (!), akhirnya kami request untuk trekking singkat dan padat: cukup 30 menit saja. Yang penting bocah-bocah ngerasain trekking naik turun lembah, melompati batu di sungai kecil, dan ketemu barisan menwa yang lagi latihan!

“Ada tentara, banyak bangetttt!”

Hihihihi. 

Dan hujan pun turun di saat yang tepat, persis saat kami selesai trekking dan sudah kembali ke area tenda. Untung lah kali ini hujannya tidak disertai angin kencang, jadi kami tetap bisa mandi lalu beberes, bersiap-siap pulang.

Ngomong-ngomong, mandi pagi itu kayaknya jadi mandi yang paling menyegarkan dirasakan selama ini. Airnya dingin banget dan mungkin karena abis trekking, jadi rasanya segarrrr! Sigi aja nggak komplen kedinginan kok!

12310713_10153726209748828_4316313985720980393_n

Terima kasih Gunung Pancar buat pengalamannya, terima kasih para bapak & ibu buat liburan bersamanya, dan terutama terima kasih bocah-bocah yang udah jadi petualang cilik yang jagoan! Semoga nggak kapok diajak kemping-kemping lagi ya, nak!

Sampai jumpa di liburan berikutnya!

Tambahan (sekilas pandang dari kegiatan kemping di Gunung Pancar):

  • Booking paket kemping relatif gak ribet, cuma menurut gue admin The Carpenter Outdoor (operator glamping Gunung Pancar) kurang informatif. Mungkin karena gue newbie, jadinya rewel pingin tau macem-macem. Nah, informasi dari tim The Carpenter Outdoor ini menurut gue cenderung sepotong-sepotong berdasarkan pertanyaan aja. Terus, ternyata komunikasi internal mereka (orang HO dengan orang lapangan) agak kurang tektok juga. Walaupun kami sendiri nggak mengalami masalah/ kesulitan apa-apa sih, cuma seandainya mereka lebih informatif, mungkin akan jauh lebih nyaman aja buat newbie semacam gue😀
  • Tapi secara umum, servis The Carpenter Outdoor sih oke-oke aja. Terutama orang lapangan alias para jagawana yang menemani kami di area kemping. Kalau kami minta bantuan relatif sigap membantu. Terima kasih pak Obeng, pak Rudi, dan tim yang sudah jagain dan nganterin kami trekking.
  • Ini banyak yang nanya: kamar mandinya gimana, Rin? Menurut gue sih relatif bersih, tapi berhubung Gunung Pancar adalah taman wisata, jadi sebenarnya ya ini kamar mandi umum. Kotornya karena tanah becek, tapi bukan jenis kamar mandi jorok. Asal jangan berharap kamar mandi kering dan ada fasilitas shower, kamar mandi area kemping kemarin bisa diterima lah. Yang penting siap sandal jepit aja buat mandi di kamar mandi.
  • Hutan pinus Gunung Pancar keceeee, cumaaaa…selayaknya tempat wisata di Indonesia, beberapa bagian nggak bisa bebas dari sampah. Gemes banget rasanya. Tapi tenang aja, area kemping relatif bersih sih.
  • Oiya, berhubung ini cuma di Sentul, jangan harap udara dingin yaaaa, hehehe. Kemarin aja abis badai dan hujan begitu, udaranya ya sejuk aja, nggak sampai bikin harus pakai jaket tebel atau baju berlapis-lapis.
  • Kalo ditanya, bakal kemping di Gunung Pancar lagi gak? Nampaknya bisa iya, karena lokasinya deket, area kempingnya bagus dan nyaman. Tapi mungkin untuk berikutnya, pingin coba paket biasa aja, non glamping, alias sewa tenda aja.
  • Untuk glamping, paket glamping standar (STD) menurut gue sih cukup banget. Untuk makanan, gue tetap lebih memilih masak sendiri daripada disiapkan makanan oleh pihak operator, karena masak-masak di alam itu lebih seruuuu! Nggak usah yang ribet, kalo perlu sih yang tinggal dihangatkan aja. Yang penting, mi instan nggak boleh lupa, hehehe.
  • Apa lah arti kemping tanpa hujan? Kemarin itu gue malah merasa beruntung banget bisa ngerasain ‘paket’ lengkap kemping perdana dengan hujan badai. Memang sih jadi ada ribetnya dan sedikit nggak nyamannya karena tenda jadi demek, area jadi becek, sehingga alas kaki juga jadi pada kotor. Tapi namanya juga melakukan kegiatan outdoor, kan?
  • Kesimpulan gue dari pengalaman pertama ini: ternyata gue memang menikmati kegiatan kemping. Recharging banget! Secara fisik sih capek dan pegel karena trekking, tapi pikiran dan jiwaraga jadi seger banget lho! Suer! Hehehehehehe. Bocah-bocah? Mereka seneng bangetttt, ada yang nangis-nangis nggak mau pulang dan acara kemping berakhir, ada juga yang baru masuk mobil mau keluar dari area kemping udah nanya lagi: kapan kemping lagi?

12308468_10153756808634948_7319180844728974298_n

One thought on “bermalam di hutan pinus

  1. Beneraan yaaa ada kemping sungguhan berikutnya hihi, nagiiiih abis lhooo, recharge nya ituuu lhoo bikin semangaat💪💪💪.
    Mbaa rins ceritanyaa asliik lengkap banget deh, memang copy writer handaal 👍👍👍 sukaaaa 😍😍
    ak mau share ke bu bos ku yaaa yang mana anaknya setype ama bobolangs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s