gengsi

Suatu hari Ibu mendadak ijin nggak masuk kerja. Sinusitis yang muncul mendadak, mendadak bikin kepala pusing sebelah. Yang bikin lebih nggak enak lagi, punggung nyeri tanpa diketahui sebabnya. Walaupun buat tiduran pun juga enggak enak, tapi nggak kebayang juga musti bergaya gimana kalau harus ke kantor.

Tapi terus inget sama sekali belum mengunjungi sekolah-sekolah calon SDnya si bocah. Now or never. Kan nggak mungkin kan berkunjung di akhir pekan, apa yang mau diliat kalau tidak murid & kegiatan belajarnya? Siapa yang mau ditanya kalau staf sekolah pada libur?

Jadinya pagi itu dengan pusing sebelah, kita bertigaan ke sekolah A yang jaraknya 1,5 km dari rumah. Pendek cerita, si Ibu dan Bapak jatuh cinta banget sama fisik sekolahnya (kalo karakter sekolahnya juga udah jatuh cinta sejak lama). Sementara Sigi mengkeret waktu disapa guru dan murid-murid saat kami mengintip salah satu kelas pas lagi jam belajar. Semakin mengkeret pas kami ke lapangan/ kantin terbuka yang penuh kakak-kakak kelas 3 dan 4 sedang makan bekal. Nggak mau jalan pas diajak lanjut muterin lingkungan sekolah. Mukanya pun keliatan pengen nangis pas dibujuk lagi. Ya udah, kita duduk-duduk aja nungguin Bapak muter-muter liat sekolah bareng bu guru pemandu.

Setelah itu, kita ke B, sekolah yang kedua. Sekolah lama yang bisa dibilang, sekolah pada umumnya. Nggak jelek tapi juga nggak istimewa. Sekolah ini sudah cukup lama, jadi secara fisik pun bisa dibilang konvensional aja. “Seperti sekolah Bapak jaman dulu…” dan diamini oleh Ibu yang juga merasa familiar dengan bentuk sekolah seperti ini.

“Jadi, yang kamu suka dari sekolah A apa aja, Gi?
Awal-awal, dia buru-buru bilang, “Nggak ada yang aku suka!” Sampai akhirnya harus digali-gali karena Ibu merasa gengsi anaknya terlalu tinggi (hiks). Akhirnya muncul juga jawabannya,”Aku suka karena ada jalan rahasianya!”

“Aku lebih suka sekolah B karena bertingkat. Terus kamar mandinya (padahal kata bapak, kamar mandinya ya gitu aja, agak kotor malah). Sama aku suka tempat makannya yang ada jualan-jualannya (kantin).”

Abis itu giliran Ibu dan Bapak gantian memaparkan opini kami masing-masing tentang masing-masing sekolah. Pas mendengar poin-poin yang Ibu dan Bapak suka dari sekolah TS, si bocah senyum-senyum. Senyum-senyum yang muncul karena sebenarnya setuju dengan pendapat Ibu Bapak. Senyum-senyum tapi terlalu gengsi untuk bilang “Iya aku juga suka!”.

Sampai akhirnya si bocah gengsi ngasih pertanyaan ke Ibu Bapaknya (kenapa jadi kita yang ditanya siiih?),”Sekolah yang paling disuka yang mana? Bapak duluan. Abis itu Ibu…”

Waktu mendengar jawaban Ibu Bapaknya, si bocah senyam senyum.

“Sigi sama deh sama Bapak Ibu…”

Dasar deh, gengsi amat! Musti ngobrol panjang lebar untuk mendapatkan jawaban ini. Padahal Ibu udah tau sejak tadi pagi waktu kamu mengkeret dan tiba-tiba ngambek nggak mau diajak muterin sekolah. Plis, jangan kayak gitu kalo nanti mau nembak cewek ya, nak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s